Search Suggestions
Loading...
{{ item.text }}
Search History
{{ tmpObj[key].text }}
Jalan Bandungan
الوصف
“Ah manusia! Selalu tergiur oleh “seandainya”. Seolah-olah dengan perkataan itu kita bisa membentuk dunia baru atau kehidupan lain yang sesuai dengan idaman masing-masing.” Demikian kata hati Muryati ketika menerima berita bahwa tawanan Pulau Buru akan dibebaskan. Berita ini dia terima dari Winar, sahabatnya.
Muryati adalah seorang dari ribuan wanita yang tidak pernah tahu ke mana pasangan hidupnya pergi sesudah waktu kantor selesai. Kalau suami berkata “akan rapat”, atau “menengok rekan yang sakit”, atau “ke Pak RT merundingkan soal warga kampung”, istri tentu percaya saja. Lelaki begitu leluasa meninggalkan rumah jika kesal mendengar rengekan anak, kalau pusing memikirkan serba tanggung jawab keuangan rumah tangga, bahkan pergi ke tempat tertentu bertemu dengan orang-orang tertentu guna membicarakan hal yang berlawanan dengan politik pemerintah. Sementara itu, para istri 24 jam terikat di rumah bersama kerepotan kehidupannya yang itu-itu melulu.
Lalu pada suatu hari, Muryati diberitahu bahwa suaminya terlibat. Mulai saat itu, perkataan “terlibat” akan menyertainya dalam seluruh kelanjutan hidupnya yang tiba-tiba menjadi jungkir balik. Bagaikan dijangkiti penyakit menular, tetangga dan lingkungannya mengucilkan dia. Bahkan saudara kandung dan kerabat dekatnya sekalipun. Dalam usahanya untuk meraih kembali pekerjaan yang telah dia tinggalkan lebih dari sepuluh tahun, di mana-mana pintu tertutup. Muka masam, kalimat sindiran atau mentah-mentah tolakan, khawatir dicurigai, takut terlibat! Apa yang harus Muryati lakukan? Pengorbanan apa saja yang akan Muryati lakukan untuk merawat sang anak? Simak kisahnya di Jalan Bandungan!
Muryati adalah seorang dari ribuan wanita yang tidak pernah tahu ke mana pasangan hidupnya pergi sesudah waktu kantor selesai. Kalau suami berkata “akan rapat”, atau “menengok rekan yang sakit”, atau “ke Pak RT merundingkan soal warga kampung”, istri tentu percaya saja. Lelaki begitu leluasa meninggalkan rumah jika kesal mendengar rengekan anak, kalau pusing memikirkan serba tanggung jawab keuangan rumah tangga, bahkan pergi ke tempat tertentu bertemu dengan orang-orang tertentu guna membicarakan hal yang berlawanan dengan politik pemerintah. Sementara itu, para istri 24 jam terikat di rumah bersama kerepotan kehidupannya yang itu-itu melulu.
Lalu pada suatu hari, Muryati diberitahu bahwa suaminya terlibat. Mulai saat itu, perkataan “terlibat” akan menyertainya dalam seluruh kelanjutan hidupnya yang tiba-tiba menjadi jungkir balik. Bagaikan dijangkiti penyakit menular, tetangga dan lingkungannya mengucilkan dia. Bahkan saudara kandung dan kerabat dekatnya sekalipun. Dalam usahanya untuk meraih kembali pekerjaan yang telah dia tinggalkan lebih dari sepuluh tahun, di mana-mana pintu tertutup. Muka masam, kalimat sindiran atau mentah-mentah tolakan, khawatir dicurigai, takut terlibat! Apa yang harus Muryati lakukan? Pengorbanan apa saja yang akan Muryati lakukan untuk merawat sang anak? Simak kisahnya di Jalan Bandungan!
معلومات بالتفصيل
- ناشر
- Jakarta : Djambatan,., 2002
- التوريق
- 380 hlm ; 21 cm
- اللغة
- Indonesia
- ردمك/ردمد
- 9794285374
- تَصْنِيفٌ
- 899.2213
- الإصدارة
- Cet. 3
- موضوع
التعليقات
You must be logged in to post a comment